Tak tanggung-Tanggung, Ajak Tujuh Anaknya Pindah Keyakinan, Ibu Ini Mantap Memeluk Agama Islam



 Ely sesenggukan mengisahkan ibunya yang sakit, “Kasihan Nenek. Umurnya mungkin enggak lama lagi tapi dia harus ngalamin ini.” Ibunya, yang ia panggil Nenek, berusia 80 tahun. Dua tahun terakhir Nenek sakit-sakitan. Kepayahan berjalan. Kakinya ngilu. Pinggangnya nyeri. Beberapa kali masuk rumah sakit, dokter cuma bilang penyakitnya adalah penyakit orang tua. Nenek memutuskan tinggal bersama Ely, anak bungsunya. Nenek menjual rumahnya karena enggan tinggal sendiri dan kesepian. Membagi hasil penjualan rumah-memuat-kenangan-lebih-dari-50-tahun kepada empat anaknya, menyisihkan sedikit untuk disimpan—jaga-jaga buat pesta pemakaman. Ely menyambut Nenek dengan gembira, betapapun keputusan itu jauh lebih kompleks dari kelihatannya. Pertama, ia harus minta izin suaminya—dan ini bukan perkara mudah. Nenek dan suami Ely tidak terlalu akur meski mereka terlihat bertegur sapa saat tinggal di satu atap. Kedua, Nenek beragama Kristen, sementara Ely dan keluarganya beragama Islam. Ini perkara lebih kompleks. Selain kepada suami, Ely harus mengantongi izin tiga saudara kandungnya yang beragama Kristen. Singkat cerita, Nenek tinggal bersama Ely selama enam-tujuh bulan, sebelum konflik itu datang. Ely cekcok dengan suaminya. Sang suami yang religius merasa risih dengan mertua beda agama. “Mungkin dia juga masih dendam karena pada awal-awal pernikahan kami sering dapat perlakuan enggak enak dari Nenek,” kata Ely. Nenek yang tahu diri akhirnya pamit ke rumah abang Ely. Sayangnya, hubungan Ely buruk dengan abangnya. Jadi, ia cuma beberapa kali mengunjungi Nenek terutama ketika ibunya dibawa ke rumah saudaranya yang lain. Sejak memutuskan pindah agama pada usia 20 tahun, dan sebentar lagi merayakan usia ke-49 pada tahun ini, perjalanan spiritual Ely bukanlah bak jalan tol yang mulus melainkan seperti air laut—bergelombang; pasang dan surut. Sebelum masuk Islam dan menikah, Ely kabur dari rumah, dua tahun tak pernah bertemu Nenek sampai anaknya pertama Ely berusia enam bulan. Meski akhirnya berbaikan, permasalahan beda agama sering memantik konflik. Pada awal-awal pernikahan, suaminya melarang Ely berlama-lama jika bertandang ke rumah Nenek. “Enggak baik. Kita sudah beda agama. Nanti ibadahmu susah, makanmu juga mesti dijaga,” kata Ely, mengulangi nasihat suaminya bak doktrin bertahun-tahun. Konflik itu tak cuma antara Ely dan orang terdekatnya tapi dengan batin sendiri. Satu dekade kemudian, anak sulungnya pernah menemukan Ely pingsan sehabis salat magrib. Ely selalu menangis sampai lemas, tak sadarkan diri, bingung bagaimana mendoakan mendiang ayahnya yang baru saja meninggal. Ayah mertua Ely yang seorang muslim pernah berkata doa seorang muslim tak akan sampai kepada orang selain Islam. Ely gelisah. Sulit membayangkan ayahnya yang Kristen akan diperlakukan sebagaimana keyakinannya yang baru memperlakukan orang selain Islam. Ely meyakini ayahnya orang baik. “Dia pendiam, enggak pernah marah. Orang paling lemah lembut,” kata Ely. Secara spiritual, ia meyakini janji-janji Allah dalam Alquran dan, demi menenangkan diri, ia percaya Tuhan itu Mahabaik. Kegundahan spiritual itu lama dipendamnya. Ia takut bertanya kepada ustaz atau ustazah karena cemas mendengar jawaban yang tak ingin didengarnya. Maka, diam-diam, ia meyakini “Tuhan itu Mahabaik.” Menyerahkan urusan sampai-atau-tidaknya doa yang ia panjatkan untuk mendiang ayahnya kepada Tuhan semata. Baca juga: Ketika Arthur Wagner Masuk Islam: Alasan-Alasan Pindah Agama Pindah Agama adalah Perjalanan yang Sepi Meski keputusan pindah agama tiga dekade lalu membawa persoalan dalam keluarganya, tapi Ely tak pernah menyesal masuk Islam. Ia mengimani agama Nabi Muhammad itu tanpa ragu. Buatnya, “Islam memang cara hidup paling cocok.” Hal itu juga dirasakan Lukman yang memeluk Islam pada 2017. Pria 35 tahun ini pindah agama Islam saat bujangan karena merasakan “panggilan” dari dirinya. Ia mengenal ajaran Islam lewat institusi sekolah negeri sejak kecil tapi baru memutuskan mendalaminya pada 2014. Ada “konflik-konflik di gereja” yang bikin Lukman gelisah dan mempertanyakan keyakinanannya. “Saya pernah melihat pendeta yang menghakimi jemaatnya di depan umum,” katanya. Meski giat dalam pelayanan di gereja sejak SMP hingga kuliah, Lukman diam-diam melakukan perjalanan spiritualnya. Saat tinggal di Malang, Jawa Timur, ia mulai mengikuti kajian Cak Nun, bahkan sering mampir ke Jombang, kabupaten di Jawa Timur tempat pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Emha Ainun Nadjib, nama lengkap Cak Nun, rutin mengadakan maiyah—semacam pengajian budaya atau ‘kenduri cinta’—ke pelbagai kota termasuk di Jombang, tempat kelahiran Cak Nun. “Almarhum Papa dulu nge-fans sama Cak Nun. Dari beliau saya tahu Cak Nun dan cocok saja dengan ceramah-ceramahnya,” tambahnya. Baca juga: Hasyim Asy'ari: Mahaguru Pemahat Kemerdekaan Indonesia Sang ayah sempat pindah agama dari Protestan ke Katolik, lalu ke Islam sebelum wafat. Dari sang ayah, Lukman merasakan dukungan. Tak pernah takut ditinggal keluarga. Meski begitu Lukman masih belum memberitahu ibu dan saudara-saudaranya. “Tahun ini Lebaran kedua setelah mualaf. Tapi, aku masih belum siap saja untuk mereka tahu,” katanya. Baginya, beragama adalah urusan pribadi. Ia tak ingin ada konflik tak perlu jika sampai harus melela atau membuka diri kepada ibunya. “Mungkin suatu hari nanti saya bakal bilang. Tapi, belum sekarang.” Hal sama dirasakan El. Sudah dua tahun terakhir ia pindah agama dari Islam menjadi pemeluk Buddha. Namun, ia masih takut memberitahu keluarganya. Bahkan kolom agama di KTP dia masih tertera Islam. El sesekali masih salat, melakukan ritual ibadah lain karena masih tinggal bersama orangtuanya. Ia sadar pindah agama di Indonesia bukan perkara mudah. Risiko kehilangan keluarga kandung sangat besar. Jadi, untuk sementara, ia harus betah merahasiakan perjalanan spiritualnya, bahkan dari orang-orang terdekat. “Perjalanan spiritual itu sebetulnya urusan sangat pribadi. Jadi, mungkin memang harus sepi rasanya,” El tertawa. Baca juga: Cak Nun: Kiai Mbeling yang Menyampaikan Agama lewat Seni dan Sastra Perang Batin Merahasiakan diri sebagai Buddhis bagi El sebetulnya bukan masalah-masalah amat. Dalam ajaran Buddha yang ia yakini, merahasiakan identitas agama bukan perbuatan buruk demi menjaga harmoni. Pada 2015, ketika mempelajari Buddhisme, El mengunjungi sebuah wihara di Yogyakarta, kota tempatnya tinggal dan dibesarkan. El bertemu sejumlah teman yang memutuskan menjadi Buddhis setelah melepas Islam. Seorang bapak, yang ia lupa namanya, menyampaikan pesan yang terus diingatnya. Bapak itu tak pernah betul-betul mengajak El menjadi Buddhis. “Kamu terserah mau jadi Buddhis apa enggak, tapi ada empat hal yang harus kamu pelajari. “Pertama, jangan menghina gurumu yang sebelumnya. Kedua, jangan menjelekkan agamamu sebelumnya. Ketiga, jangan sungkan untuk mempelajari agama lain—jadi, jangan berhenti hanya di Buddhisme, cobalah ajaran agama yang lain, mana tahu kamu lebih nyaman dengan agama tersebut. Dan yang terakhir, kalau misalnya kamu menjalankan tradisi kemusliman untuk menjaga keharmonian—supaya tidak terjadi chaos—ya sudah jalani saja." “Aku pegang prinsip itu dan itu juga yang bikin aku yakin. OK, Buddhisme pilihan yang tepat,” ujar El. Baca juga: Pandangan terhadap LGBT: Masih Soal Penyakit Sosial dan Agama Meski begitu, perjalanan spiritual El menjadi Buddhis tidak terjadi satu malam. Sejak kelas 6 SD, ia mempertanyakan orientasi seksualnya. Besar di keluarga muslim membuatnya dihantui pikiran bahwa ia membawa dosa besar. Dalam Islam, lelaki hanya boleh menyukai perempuan. Orientasi seksual dalam diri El memantik banyak pertanyaan spiritual, seperti: “Apakah betul Tuhan menciptakan saya cuma untuk dihina dan dicaci seumur hidup lalu dibakar di neraka setelah mati?” Sekitar 2011, saat kelas dua SMA, El mulai lelah dengan pertanyaan macam itu. Ia mencoba mengenal dirinya sendiri. “Aku mulai mencari tahu apa itu homoseksualitas, apa itu gay. Dan menemukan banyak penelitian yang menyebut bahwa ini bukan kelainan.” Sejak itu ia mempertanyakan agamanya, “Kenapa ada banyak narasi-narasi kebencian dalam agama yang harusnya membawa kebaikan?” El mulai mengenal istilah ateisme dan agnostik tapi ia masih percaya Tuhan itu ada. Saat masa perkuliahan, ia mendalami sejarah agama. Suasana lebih terbuka membuatnya lebih nyaman menerima orientasi seksualnya. Ia mulai membongkar dogma-dogma moral, stereotip dalam lingkungan sosial termasuk dalam agama. Ia sempat tertarik mempelajari Katolik hingga akhirnya berlabuh pada ajaran Buddha